Rumah Pelangi Kembali On Air Di Taman Pustaka Dakta Radio

Rumah Pelangi Kembali On Air Di Taman Pustaka Dakta Radio

Sabtu, 29 Juli 2017. Rumah Pelangi menghadiri undangan 'bincang taman pustaka' di Radio dakta 107 FM.

Dalam kesempatan ini Jamaludin, SH. Menyampaikan tentang pentingnya geliat literasi di bumi bekasi.
"Literasi ini adalah sebuah dampak. Kita sepakat bahwa kita orang Bekasi punya jiwa patriotisme, karena para orang tua kita, para leluhur kita adalah pejuang kemerdekaan. Zaman dahulu mereka berjuang dengan golok, pedang, senjata, bambu runcing dan sebagainya. Sekarang sudah saatnya kita berjuang dengan cara mencerdaskan anak bangsa, salah satunya dengan literasi. Giat membaca, menulis, dan berpikir serta bertindak kreatif, kita mampu mencetak generasi penerus yang bermartabat, bermoral, berkesadaran dan menjunjung tinggi kearifan lokal". Ujar Jamaludin, lelaki yang mirip tokoh Prabowo ini.


"Jamaludin adalah salah satu tokoh pendiri rumah pelangi Bekasi. Semangatnya yang masih saja membara membuat kami kagum dan bangga. Usianya memang tidak muda lagi, namun masih saja bersemangat dan antusias menyebarkan virus literasi di lingkungan Rumah pelangi Bekasi. Beliau juga sesepuh di kampung Babakan kali bedah, kampung dimana tempat berdirinya rumah pelangi Bekasi. Beliau adalah contoh bagi para pemuda dan pemudi. Tokoh yang pantas untuk ditiru, tokoh yang sangat peduli dengan nasib anak bangsa.

Saya berharap pemuda dan pemudi dapat mencontoh tindakan yang dilakukan oleh Bang Jamal (sapaan hangat anak pelangi), agar kami selalu tearah dan tertata masa depannya. 

Karena sangat disayangkan sekali, pada zaman yang sudah sangat canggih ini, banyak anak kecil yang sudah menyimpang dan melakukan hal-hal yang sangat tidak sesuai dengan norma dan usianya. Ada yang berpacaran, ada yang merokok bahkan ada juga yang sudah mengenal beberapa barang haram. Nasib anak-anak bagaikan di ujung tanduk. Anak-anak ini sedang mencari jati dirinya, Sebenarnya ini kembali pada pribadi, lingkungan, dan orang tua tentunya.

Karena Orang tua adalah contoh yang paling dekat dengan anaknya, seorang anak adalah mesin fotocopy yang sangat cepat, mereka akan meniru apa yang mereka lihat dan dengar, contohnya adalah sinetron. Apalagi zaman sekarang tontonan yang ditayangkan sangat tidak mendidik. 

Tontonan yang disuguhkan sangat tidak mendidik, kebanyakan sinetron percintaan,  berita kriminal, aksi kekerasan dan kasus bullying. Sangat disayangkan televisi itu sifatnya umum, bukan hanya orang dewasa saja yang menonton, anak kecil pun ikut menonton dan melihat adegan-adegan yang sangat tidak mendidik, seperti berpegangan tangan dengan lawan jenis, berpelukan, kekerasasan, bullying dan lain sebagainya.

Jadi, kita tidak boleh menyalahkan siapa pun pada hal ini, karena semua terkait. Seharusnya kita sebagai pemuda dan orang dewasa yang melihatnya dan merasa bahwa semua itu salah dan tidak benar. Kita harus kembali bercermin dengan diri kita sendiri. Sudah menjadi keharusan dan tugas kita untuk membimbingnya serta mengarahkan ke jalan yang benar.

Jadi, benar kata bang Jamaludin. Yuk sama-sama kita menyebarkan virus literasi untuk mencerdaskan anak bangsa, yang menjunjung tinggi martabat, moral, spiritual,  dan kearifan lokal. Kita bisa, karena kita bersama.
Kalo bukan kita siapa lagi? 
Kalo bukan sekarang, kapan lagi!

Penulis: Sri Zulaiha
Editor: Suryani

#kamipedulipendidikan

Untuk yang ketinggalan, bisa mendengarkan rekaman siaran ini di Rumah Pelangi Bekasi Di Dakta 29 Juli 2017 Klik Di SINI [Soundcloud].
Foto-foto saat On Air dapat dilihat di album Facebook Rungi Klik Di SINI.

Bagikan:

0 komentar