Apa mimpimu?

"Di era modernisasi seperti ini, penjajah sudah tergantikan dengan kenyataan hidup yang lain. Yang lebih kompleks. Dan tak kalah pelik di masa dimana Indonesia ingin melepaskan diri dari genggaman tangan penjajah. Saking berbedanya sebutan pembela Negara dulu dengan kini, hingga kemudian terjadi perluasan makna. Yang lebih universal. Perluasan makna ini, dikarenakan tuntutan perkembangan zaman yang kian maju."
Sepotong ide ini saya kutip dari tulisan teman saya ngopi kemarin malam. Beliau yang baru kali ini saya berkesempatan bertatap muka dan menyaksikan langsung semangat membaranya ini benar-benar bertanya hal yang di luar dugaan.
"Apa mimpimu?" ucapnya membuyarkan suasana ngopi sore saya.
"Saya hanya ingin menjadi anak wayang, terserah bagaimana maunya Sang Dalang menggerakkan saya" jawab saya mengambang.

Saya tahu, beliau yang paham dunia peran pasti menangkap keraguan dalam jawaban yang saya ucapkan dengan gemetar. Namun ia baik hati, segera ia tutupi ketidaknyamanan saya dengan diplomatif sembari memeluk dua adik saya yang larut dalam keharuan yang ia ciptakan dengan pertanyaan-pertanyaannya.
Kenang-kenangan dari Kak Uni setelah kelas pagi di Rumah Pelangi

Siti Sahauni, Suni Ahwa atau Kak Uni, demikian kami memanggilnya, bercerita banyak tentang masa kanak-kanaknya yang bergelut dalam mempertahankan hidup di zaman yang katanya sudah modern.
"Ayah saya penjual ikan, saya memulung, berjualan kerupuk untuk membantu keluarga dan sekolah" demikian ungkap Kak Uni menerawang masa lalunya.

Kisah ini bukan saja memotivasi adik-adik di Rumah Pelangi, juga membuat saya paham darimana beliau mendapat inspirasi untuk menulis "Di era modernisasi seperti ini, penjajah sudah tergantikan dengan kenyataan hidup yang lain" sebagaimana saya kutip di atas.

Adik-adik di Rumah Pelangi kebanyakan adalah anak-anak dengan latar belakang ekonomi sederhana dari keluarga petani, sebagian buruh atau pegawai. Karenanya kisah hidup yang diceritakan Kak Uni terdengar akrab dengan kehidupan kami, yang menjadi penyemangat adalah kisah bagaimana Kak Uni kini dapat menjadi dirinya saat ini, "from nobody to somebody" dengan kemampuan yang ia asah tanpa lelah, dengan segala keterbatasan yang kurang lebih sama dengan keterbatasan kami namun telah menulis sekitar 9 buku dengan berbagai penerbit.
Foto besama korlas dan adik-adik Rumah Pelangi Bekasi
"Apa mimpimu?"
"Ingin menjadi penulis seperti Kak Uni"
"Ingin menjadi psikolog"
"Ingin menjadi......." dan seterusnya.

Lalu mengalir deras segala inspirasi dan motivasi dalam balutan canda ringan yang cair dan akrab. Bukan, ini bukan pertemuan pertama kami dengan Kak Uni, ini kali kesekian kami bertemu dengan beliau, namun kali ini kami bertemu secara fisik di bawah naungan gedung yang telah lama terbengkalai dan kini mulai meriah kembali dengan nama Rumah Pelangi.



Menderas doa kami mengiringimu pulang kembali ke Serang Banten Kak. Semoga segera kita berjumpa lagi
@ 29-30 April 2017.



Bagikan:

0 komentar