Derasnya Air Itupun Tak Menyurutkan Nyaliku

Bangunan yang masih ala kadarnya, nampak wujud aseli yang tak tersentuh tangan sejak 17 tahun yang lalu. Akses menuju kesana malam inipun membuatku berdecak....

Ditemani rintik hujan setelah deras tadi sore, perahu kecil (getek) sudah menunggu kami untuk mengantarkan ke seberang lantaran jalan utama satu2nya akses tanpa menyebrangi sungai sedang di cor....

Weew....setumpuk nyalipun sdh aku siapkan melihat aliran sungai yang deras oleh limpahan air hujan sejak sore tadi...

Berhasil......getek itupun sukses menyebrang walau sempet menunggu batang pohon pisang yg terbawa derasnya arus sungai....


Dan inilah sudut lain dari Bekasi.....

------

Sepanjang sore ini hujan deras mengguyur sebagian besar wilayah bekasi. Beberapa kali hpku bergetar karena ada pesan masuk dari teman yang menunggu kedatanganku sejak siang tadi.

"Ta....jadi dateng kan?" begitu pesannya....tanpa menunggu lama, pesannya aku balas..."Iya Ris...nunggu hujan reda ya, lagian msh nunggu Raka masih dijalan". Riskipun menjawab...."Iya pokoknya sampai malampun aku tunggu"....

Dan benar....menjelang maghrib hujanpun reda bersamaan datangnya Raka, selesai sholat maghrib kamipun pergi....

Bbbrrr.....udara dingin malem itu seakan menusuk tulang tulangku. Damn....ketika mendekati rumah Riski, jalan ditutup karena sedang ada perbaikan. Terpaksa kami harus menggunakan satu satunya jalan alternative dengan menyeberangi sungai menggunakan getek (perahu kecil).

"Raka....hati-hati, turunannya curam bisikku"...

"Tenang aja Ta"....bismillah, akupun turun dari motor supaya Raka bisa menaikkan motornya ke atas getek itu.

Setumpuk nyalipun aku siapkan melihat derasnya aliran sungai plus bonus sampah yang mengalir deras akibat derasnya hujan sejak sore tadi. "Pak...geteknya nanti sampai dengan jam berapa ya?" Aku tanyakan itu karena hujan rintik masih saja mengiringi perjalanan kami......

Jawab si bapak penjaga getek "Wah...kurang tau ya, airnya naik ini"....gawat....gumamku dalam hati, nanti harus bergegas pulang kalau begitu....

Alhamdulillah....meski harus berhenti di tengah sungai karena menunggu batang pisang melintas di depan getek, sampai juga di ujung sungai....

Aku dan Raka melanjutkan perjalanan, meski minim penerangan lampu dari rumah-rumah warga sekitar. Sedikit merinding bulu kuduk karena juga harus melewati kuburan yang gelap sehingga perjalanan terasa lama.

Samar-samar terlihat bangunan ditengah lapang diterangi cahaya langit yang meredup karena tertutup mendung. Mendengar suara motor Raka...terlihat Rizki bergegas menyambut kedatangan kami dengan wajah yang berseri.

"Selamat Datang di Rungi (Rumah Pelangi) Ta..." sapa Riski....

Derasnya Air Itupun Tak Menyurutkan Nyaliku


Sejenak mataku menyapu setiap bagian bangunan di depanku. Bangunan ala kadarnya yang masih nampak wujud asli yang tak tersentuh tangan sejak ditinggalkan 17 tahun yang lalu.

Dinding tembok yang belang-belang karena terkelupasnya cat tembok yang sudah usang. Lantai ubin seadanya, bahkan belum mempunyai toilet yang jauh dari memadai meski sudah efektif untuk kegiatan belajar. Rak buku yang sudah mulai kerepotan menampung buku-buku bacaan dari teman-teman yang berbaik hati menyumbangkannya.

Sejenak kutatap Riski.... bangganya aku mempunyai seorang teman, sosok pemuda yang mempunyai empati pada lingkungan agar daerahnya tidak tertinggal. Harapannya yang tinggi pada generasi penerus tentu tak boleh dipatahkan. Akupun berjanji untuk membantunya dan kami butuh dukungan.

Waktu sudah menunjukkan pukul 22.30, irama rintikan hujan seolah masih mengiringi kepulangan kami. Sebelum beranjak, Riski menghampiriku dan berkata....."Ta....bukan hanya materi yang kami butuhkan atau apapun bentuk yang memanjakan mata kami untuk memandang. Meski hanya sekedar meluangkan waktu untuk berbagi keceriaan dan berbagi ilmu atau ketrampilan untuk adik-adik Rungi...itu sudah cukup buat kami".

Akupun menganggukkan kepala, kutepuk pundaknya dan segera berlalu.

Bagikan:

0 komentar